iklan

Another Test Footer

Palasik

 
Ngomongin masalah palasik,, saya jadi teringat cerita mama papa, di hari kelahiran kakak saya...
Kami adalah orang Minang, yg tinggal di kota Bukittinggi. Kota sejuk yg terkenal dengan kulinernya, "nasi Kapau".
Di setiap daerah, pasti ada ciri khas dan keunikan tersendiri. Begitu juga dengan hal2 unik dan gaib yg berbeda2 antara daerah yg satu dgn yg lainnya.
Karena daerah kami masih mempunyai banyak hutan dan perkampungan yg masih menjaga adat istiadat, kami juga mewarisi dan masih mempercayai hal2 mistis yg diceritakan secara turun temurun. Salah satunya yg berasal dari daerah kami adalah "palasik".
Menurut cerita orang2 tua dahulu, palasik ada beberapa jenis.
Ada palasik kuduang, yg badannya tetap dirumah, kepalanya terbang mencari mangsa.
Ada yg namanya palasik samba, yg incarannya cuma hidangan lauk pauk yg akan dihidangkan untuk acara kondangan, dan palasik biasa yg tanpa embel2 tambahan.
Khusus palasik kuduang, sudah jarang terdengar di daerah kami. Walaupun ada, kami tidak begitu familiar dengan ceritanya. Yg pasti, menurut saya, palasik kuduanglah yg paling menyeramkan.
Yg familiar didaerah kami adalah palasik biasa. Salah satu versi ceritanya yg pernah saya dengar, palasik adalah orang yg mendalami ilmu hitam, yang ujung2nya berubah menjadi kutukan turun temurun yg tidak bisa ditolak. Dimana mereka mau ngga mau harus mencari korban yg bakal dihisap darahnya. Jika tidak, mereka biasanya jadi seperti org sakaw.
Umumnya korban adalah bayi baru lahir sampai yg berumur dibawah 2 tahun.
Berbeda dengan cerita drakula atau vampir, palasik tidak menggigit korban untuk menghisap darahnya.
Palasik cuma manusia biasa. Tidak mengerikan seperti palasik kuduang.
Bisa jadi palasik adalah orang sebelah rumah kita, yg mempunyai keturunan darah palasik.
Dan biasanya, sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat, siapa2 saja yg sekarang menjadi palasik di pemukimannya.
Palasik cukup memperhatikan korbannya dari jarak yg agak dekat, dan kalau lagi sakaw, dia akan berusaha mengikuti korbannya kemanapun, walaupun orang tua si bayi sudah berusaha menghindar.
Di daerah kami, orang tidak terang2an membenci palasik, atau memusuhinya.
mereka cuma berusaha untuk menghindarinya saja.
Karena, palasik itu adalah kutukan dari perbuatan kakek neneknya, bukan gara2 kemauan sendiri.
Jika bayi sudah terkena palasik, biasanya mencret, demam, dan jika tidak segera dibawa ke orang pintar, kadang juga bisa sampai menyebabkan kematian.
Bahkan, jika kita membawa ke dokter sekalipun, dokter2 lama biasanya sudah mengetahui tanda2 anak yg terkena palasik, dan biasanya mereka menyarankan segera dibawa ke org pintar. Karena penanganan medis tidak bekerja untuk bayi yg terkena palasik.
Keluarga saya juga mempunyai pengalaman yg lumayan mengerikan dgn palasik.
Ceritanya, dibulan Desember 1981, dialami sendiri oleh papa, mama, dan kakak saya.
Sore itu, mama dibawa ke RS, untuk proses bersalin anak pertamanya.
Setelah menunggu semalam di RS, kakak saya Yessi lahir dengan normal dan sehat.
Kantor papa berada tidak jauh dari RS, jadi di hari kedua papa tetap ngantor, menunggu mama diizinkan pulang oleh pihak RS.
Awalnya schedule pulangnya dari RS adalah jam 2 siang, tapi karena waktu itu papa lg banyak kerjaan dikantor, papa telat jemput.
Papa sampai di RS jam 4 sore, dan pas papa mau naik tangga ke ruang bayi, para suster memanggil papa, dan bilang dgn sedikit berbisik, "ada palasik datang barusan, naik lewat tangga depan.."
Papa orangnya ga terlalu percaya mistis, cuma agak bergidik juga dengar kata palasik.
Papa pun buru2 naik keatas lewat tangga tengah dan masuk ke ruangan mama.
Sesampai di ruangan, ternyata sudah ada dua orang suster yg juga baru datang dan bilang ke mama bahwa palasik sedang berjalan ke arah sini..
Mamapun kelihatan shock.
Untungnya, mama udah mengemas barang2nya untuk pulang daritadi.
Para suster langsung buru2 membimbing mama keluar ruangan, dan kakak saya digendong sama papa. "Barang ditinggal dulu, yg penting kita cepat turun" kata papa sama suster.
Mereka buru2 turun lewat tangga belakang, dan untungnya ga ketemu sama palasik yg naik ke atas.
Pas hampir sampai ke bawah, susterpun menarik mama dengan agak cepat sambil agak sedikit terdiam.
Papa yg berjalan dibelakang pun agak terhenti langkahnya.
Palasik berpapasan di anak tangga terakhir, mau naik ke lantai 2, lewat tangga belakang..!!
Tanpa kata2, bibir palasik bergerak2 seperti mengenyam sesuatu. Matanya fokus ke kakak yg ada dipangkuan papa.
Suster terus menarik mama, dan suster yg lain mengajak papa segera pergi, sambil ngomong dgn nada sedikit tinggi ke palasik "Di atas ngga ada siapa2..!! PULANGLAH!!!"
Palasik yg lg fokus ke kakakpun seperti sedikit kaget, tanpa kata2, ga jadi naik ke atas. Dia seperti orang linglung, tapi balik mengikuti papa yang sedang menggendong kakak dgn agak terburu2. Papa dan mama sedikit berlari, mama yg baru lahiran agak kesusahan sampai akhirnya sampai di parkiran.
Palasik td coba dicegat sama satpam, dan suster lain yg mencoba mengalihkan perhatiannya dari kakak.
Pas masuk mobil, kakak mulai mencret, badan panas, dan ketika sampai rumah, ubun2nya udah agak cekung, tanda palasik berhasil menghisapnya.
Untungnya, papa dikasih tahu sama para tetangga, "bawa ke bapak pasa Jawi!"
Org pintar yg bisa menangkal palasik.
Alhamdulillah, kakak selamat setelah dikasih bawang putih, dan ramuan2 lain melalui bapak "pasa Jawi".
Dan, disitu mama dan papa dikasih tau, jika lain kali bertemu dengan palasik, jangan lari..
Langsung samperin, dan suruh dia menggendong bayi kita sambil bilang..
"Nek, ini cucu nenek.. gendonglah nek.."
Dengan ngasih seperti itu, dia ga bakalan mau menghisap darah bayi kita.
Tapi kalau kita lari, dia bakal berusaha terus mengikuti dan bahkan mau berlama2 nungguin didepan rumah kita..

Arwah Penasaran Korban Tumbal Meneror Satu Kampung

Ada rumor Joko menjadi arwah penasaran karena kematiannya akibat dijadikan tumbal. Namun, Bambang tak memercayainya.
Raut wajah Bambang saat itu terlihat tidak menyenangkan. Duduk di bangku parkiran rumah sakit, Bambang tidak mengucap sepatah kata pun meski di tempat itu dia tidak sendiri. Bambang lalu mengambil rokok yang tergeletak dan ia sulut. Setelah satu sedotan, dia terlihat agak tenang.
“He, Pak, itu tadi rokoknya siapa, asal ambil aja,” protes Soni Sempak.
“Nggak tahu, pokoknya aku isep aja. Anggap aja sila kelima Pancasila,” balas Bambang.
Tak mau berdebat, Soni memilih untuk bertanya kenapa Bambang terlihat lesu. Bambang tadinya semangat ketika katanya ada perintah untuk menjemput pasien. Tapi pulangnya dia malah tampak lesu.
“Son, aku tadi jemput melati
tetanggaku. Dia gantung diri di kamar, tapi untung selamat gara-gara ditemuin sama Bapaknya dan aku nganter ke rumah sakit ditemani Bowo pakdenya Melati. Kampungku lagi gawat, Son. Dalam waktu berdekatan hampir ada dua orang meninggal, yang satu malah jadi arwah penasaran.”
“Lho, si joko jadi arwah gentayangan, Pak? Jadi rumor itu ternyata si Joko?”
“Iya, Son. Dia meninggalnya juga bunuh diri. Tapi, rumor yang beredar, dia meninggal karena jadi tumbal. Ada yang ketemu hantunya dan arwah Joko itu minta tolong. Tapi menurutku itu bohong, Son. Orang-orang paling nggak mau ikhlasin utangnya si Joko. Aku nggak percaya kalau belum ketemu sendiri.”
Joko meninggal gantung diri di rumahnya. Rumahnya akhirnya kosong tak berpenghuni. Tidak satu pun orang berani lewat rumah Joko setelah jam 9 malam. Kampung yang sebenarnya ramai jadi sepi semenjak kematian Joko. Beredar kabar Joko gentayangan dan sering menakuti orang yang melewati rumahnya.
Sif Bambang berakhir jam 9, namun karena keasyikan main samgong, dia pulang jam 11 setelah dimarahi istrinya. Dia pulang naik motor pelan-pelan. Sesampainya di gapura kampung, Bambang mulai kepikiran untuk iseng. Dia ingin membuktikan kalau orang kampung itu hanya bohong tentang cerita arwah penasaran Joko. Maka Bambang dengan membelokkan motor ke arah rumah Almarhum Joko.
Baru jam 11, suasana sudah sepi. Biasanya masih ada anak muda madesu yang mabuk-mabukan, tapi sekarang warga memilih menutup pintu rumahnya rapat-rapat. Bambang jadi teringat game yang dimainkan anaknya, kalau nggak salah namanya Residen Avril.
Kediaman Joko tinggal 3 rumah lagi, dan sejauh ini baik-baik saja.
“Arwah penasaran mah kecil. Jenazah aja sering kuajak ngobrol,” gumam Bambang.
Tiba-tiba motor Bambang mogok, Jupiter Z kreditan itu mendadak mati. Bambang mulai bergidik, masak orang gentayangan bisa matiin mesin. Kok sangar. Tapi Bambang tak ambil pusing, dorong saja toh sudah dekat ini.
Mendekati rumah Joko, Bambang melihat seseorang berdiri di depan pagar. Bambang lalu memanggil orang tersebut. “Mas, mau nagih utang swargi Joko ya? Besok aja, jam segini masak nagih utang.”
Orang tersebut tidak menengok ke arah Bambang. Karena gelap Bambang pun tidak bisa melihat dengan jelas muka orang tersebut. Tapi apa yang diucapkan orang itulah yang membuat Bambang gemetaran.
“Aku Joko, Pak Bambang. Tolong aku, Pak.”
Bambang akhirnya melihat siapa orang itu. Ternyata rumor arwah penasaran itu benar, orang itu ternyata Joko. Joko mendekati Bambang perlahan, yang masih mematung karena ketakutan. Tiba-tiba saja kepala Joko putus dan belatung keluar dari leher Joko. Leher almarhum Joko memang patah sewaktu dimakamkan.
Tangan Joko meraih kepalanya yang terjatuh dan memberikannya kepada Bambang. “Pak, tolong, Pak… kepalaku hilang, Pak….”
Bambang langsung mengumpat. “Cocotmu suwek! Aku ra weruh ndasmu neng endi. Mbok tulung, Jok, aku ojo diwedeni. Jan dewe konco kentel. Jok, cicilanku akeeeh, Jok.
Joko langsung mundur sembari masih memegangi kepalanya. Belatung-belatung gemuk yang berpesta berjatuhan dari leher Joko. Bambang tidak menyangka bahwa uji nyali iseng malah membuat dirinya bertemu arwah penasaran tetangga. Ia langsung mendorong motornya sambil setengah berlari. Dua rumah terlewat, tiba-tiba motornya hidup. Bambang pun langsung gas pol motornya.
Tapi dia masih bisa mendengar Joko teriak kepadanya, dan itu membuat dia bingung.
Esok harinya Bambang meminta kepala desa dan kepolisian untuk mengecek kuburan Joko sekali lagi. Ternyata setelah digali, yang dikatakan Joko semalam benar. Kepala Joko hilang, dan dia gentayangan untuk memberi tahu orang-orang.
Di ujung desa, Pak Busrowi membuka pintu. Bowo berdiri di depan pintu dan menatap tajam Busrowi. Mereka tidak membahas isu arwah penasaran, tapi mereka akan membahas sesuatu yang penting.
“Bowo, tumbalnya kurang satu. Ponakanmu, Melati, selamat.”

Horor Sepeda Roda Tiga yang Keliling Ruangan Tanpa Ada Pengendaranya

Bayangkan kamu dan teman-temanmu lagi asyik ngobrol tiba-tiba ada sepeda roda tiga mengitari kalian. Dan di atas sepeda roda tiga itu tidak ada siapa-siapa. MAMAM.
Tiga belas tahun yang lalu, saya lupa bulannya, yang jelas itu awal tahun, saya diajak Bapak pergi ke suatu tempat. Katanya melihat madik-madik di sepeda roda tiga. Belakangan saya baru paham maksudnya adalah setan.
Ceritanya, Bapak ditelepon oleh seorang sahabat untuk datang ke rumah saudaranya. Ada sepeda roda tiga yang bisa jalan sendiri. Lalu ada yang suka mainan jendela rumah. Intinya, membuat rumah aman kembali.
“Cak, Kamis selo?”
Kenopo, Cak?”
Melu aku. Aku njaluk tulung banget. Biasa. Kayak begituan.”
“Iyo wes.”
Kata “biasa” adalah semacam kode. Terkadang, Bapak suka diminta tolong orang untuk membuat rumah aman dari “serangan yang tidak terlihat”. Karena keseringan, jika ada orang yang minta tolong, dan mengucapkan kata biasa, alm. Bapak sudah paham. Pasti ada sesuatu yang aneh.
Sebenarnya, Bapak tak pernah mempelajari ilmu mengusir setan macam kuntilanak atau genderuwo. Sebab, yang dipraktikkan pun, sama seperti ustaz-ustaz di film Suzana. Membaca ayat kursi, sudah. Setannya ilang.
Apakah itu karena kekuatan doa? Atau kekuatan fisik Bapak? Atau tampang Bapak yang kayaknya lebih seram dari setannya? Ya ga tahu. Sepanjang pengetahuan saya, yang jelas selalu sukses.
Namun begitu, Bapak menolak disebut dukun. Sebab, beliau tak pernah memakai pakaian hitam dan dupa ketika melaksanakan ritual. Cukup datang di lokasi. Berdiri di tempat yang dikatakan seram, berdoa, dan selesai.
Dan itu juga dilakukan ketika melihat sepada roda tiga di sebuah rumah saudara sahabat. Ketika masuk, kok ya ternyata Bapak kenal dengan pemilik rumah. Alhasil, suasana yang seharusnya seram, malah menjadi menyenangkan. Seperti seorang teman lama bertemu kembali.
Meskipun begitu, Bapak sepertinya awas. Beliyo sering menoleh ke kiri. ke sebuah ruangan di mana sepeda roda tiga itu diparkir.
“Sudah tahu, ya, Cak?”
“Ya, nanti dilihat dulu aja.”
“Oh, iya, ini uborampenya, Cak.”
Bapak kaget. Di hadapan Bapak tersaji dua bungkus surya segelas kopi hitam, dan semangkuk rawon.
“Loh, buat apa ini?”
“Loh, katanya rikues ini.”
Bapak menoleh ke sahabatnya. Dia hanya tersenyum. Semacam nggateli. Pasti Bapak dimanfaatkan.
“Hehe, ini buatku kok, Mbak.”
“Owalah, diamput!”
Ocehannya belum berhenti, dari arah kiri, keluar sebuah sepeda roda tiga.  Sepeda roda tiga itu berjalan ke arah kami berempat. Selanjutnya, angin yang agak kencang masuk dari ventilasi pintu depan.
Jujur, ketika menulis artikel ini, saya merinding.
Saya kaget. Mak tratap. Bapak masih diam. Sahabatnya yang mencoba menyalakan sebatang rokok Surya, malah gagal.
“Ya, begini, Cak. Abis ini lebih heboh.” Wedhus, sepeda roda tiga yang jalan sendiri masih belum cukup.
Berturut-turut, lonceng di pintu depan berbunyi, penutup jendela membuka menutup berulang kali, dan sepeda roda tiga itu, ini jujur mengerikan, mengitari kami berempat tanpa ada pengendaranya.
Ya tuhan, ini lebih seram daripada paranoid, batin saya.
Saya melompat ke kursi. Tak sengaja, saya menyenggol rawon. Tumpah. Sahabat Bapak melongo. Sedangkan Mbaknya hanya bisa menatap dengan raut muka ketakutan.
“Itu kalau sepeda roda tiga dimasukkan lagi, nanti keluar lagi, Cak.”
“Ha, masak gitu, Cak?” Tanya sahabat Bapak.
“Nih, ya.” Dengan sigap, dia mengembalikan sepeda roda tiga ke tempat semula. Eh, nggak berapa lama, sepedanya keluar lagi. Waduh.
Kali ini Bapak yang mengembalikan sepeda roda tiga itu. Sembari memarkir, Bapak berdiri. Komat-kamit mulutnya yang sepertinya, sih, lagi baca ayat kursi. Lalu, kembali ke arah kami.
“Ini cuman usil, kok, Mbak. Mau tahu, gak?”
Mbak menganggukkan kepala.
“Cuman anak kecil. Semacam tuyul. Mungkin dulunya dia nggak pernah main sepeda-sepedaan. Makanya, kalau malem, dan nggak dimainkan oleh anak Mbak, dia mau pakai. Kalo dimasukkin lagi sepedanya, dia ngambek.”
“Wah, trus gimana, Cak?”
“Ga papa, kok. Katanya ini hari terakhir mau main sepeda-sepedaan. Semoga aja, sih, Mbak.”
Sembari mendengarkan paparan dari Bapak, saya, dalam hati, membaca ayat-ayat apa saja yang saya bisa. Kenapa? Lha jendelanya masih sering buka dan tutup.
“Nah, itu nggak papa, Pak?” Saya menunjuk jendela.
“Oh, nggak papa. Itu temannya cuman gelantungan. Nanti juga selesai.”
(((Gelantungan))) wat de hell!
Ya, memang. Sekitar 20 menit kemudian, jendelanya menutup lagi. Sedangkan sepeda roda tiga itu sudah masuk kembali ke tempat semula.
Sebelum pulang, Bapak hanya bilang kepada Mbak bahwa namanya mahluk halus itu kadang juga pengin mencoba benda buatan manusia. Tapi, karena dimensinya beda, suka menampakkan diri. Masalahnya, kalau sudah mencoba, biasanya malah keterusan. Itu yang repot.
Mbak mengucapkan terima kasih dengan berulang kali menundukkan badan. Saya dan Bapak pamit pulang. Lega rasanya.
Tiga minggu setelahnya, Mbak telepon Bapak.
“Cak, suwun, ya. Sekarang udah aman sepeda dan jendelanya, tapi….”
“Tapi, apa, Mbak?”
“Mobil di rumah suka nyala sendiri tiap jam 11 malam.”
MODYAR!

Hati-hati kalau Main Catur di Rumah Sakit

Pesan moral dari kisah main catur ini: Kalau ketemu teman, mending suruh nyebutin password dulu.
Cerita ini adalah pengalaman Bapak A yang merupakan salah seorang pegawai rumah sakit di Wonogiri.
Pada suatu malam, Bapak A menjalankan piket malam. Masuk pukul 2 pagi, Bapak A kedatangan tamu. Seorang kawan bernama Agus yang memang sering mampir ke tempat kerjanya.
Setelah basa-basa sedikit, Bapak A mengeluarkan sebuah benda yang tak asing dari bawah meja. Benda itulah yang membuat Bapak A dan Agus menjadi akrab sejak dulu, yaitu papan catur. Belakangan, olahraga catur yang digemari keduanya itu di haramkan oleh seorang pemuka agama kondang.
Namun, tak peduli dengan hukum bermain catur, Bapak A mengajak Agus untuk adu otak di pagi buta.
“Biasanya kalau nggak ada kerjaan gini, aku main catur sendiri aja, Gus,” ungkap Bapak A. “Untung, kamu kebetulan berkunjung kemari. Jadi aku ada lawannya.”
Agus hanya mesam-mesem sambil memajukan kuda untuk mengobrak-abrik pertahanan Bapak A.
Gerakan itu bikin Bapak A bengong. Bukan karena takjub dengan kekuatan Agus yang bisa ngangkat kuda pakai satu tangan (tangan kiri pula), tapi Bapak A dilanda bingung mau mengorbankan benteng atau gajah.
“Sulit ini, Gus. Sulit.” Bapak A memijat kening kayak mbah-mbah mikirin anak-cucu. “Kasih aku waktu mikir ya.”
Tanpa ba-bi-bu, Agus berdiri dan meninggalkan Bapak A.
“Eh, mau kemana? Aku belum nyerah loh, Gus!” kejar Bapak A.
“Ke dapur dulu,” ucap Agus kalem.
“Oh, mau bikin teh ya? Dua ya. Bikinin buat aku juga,” pesan Bapak A manja.
Sejam kemudian, Bapak A masih belum memutuskan mau mengorbankan benteng atau gajah. Namun, yang lebih mengherankan adalah Agus tak kunjung kembali. Setahu Bapak A, bikin teh tidak selama itu. Kecuali bikin tehnya satu barel untuk orang satu rumah sakit.
Penasaran, Bapak A ngacir ke dapur. Di sana hanya ada teman kerjanya yang sedang video call dengan pacarnya di kampung. Agus tidak kelihatan batang hidungnya.
“Tadi ada Agus kemari, nggak, Lur?” tanya Bapak A.
“Agus? Dari tadi nggak ada yang kesini, Pak.” Teman jaga Bapak A menjawab polos.
“Serius, Lur.” Bapak A mulai panik.
Yang dipanggil Lur itu justru menunjukkan layar hapenya yang menampilkan pacarnya di seberang sana. “Kalau nggak percaya, tanya aja pacarku. Dari tadi aku sama dia aja kok, Pak.”
“Ke mana ya larinya si Agus?!” heran Bapak A.
“Pak. Ini Agus yang dimaksud Agus B?” tanya si Dulur.
“Iya Agus B aja. Temen kita,” beber Bapak A.
Mendengar jawaban Bapak A, si Dulur langsung diam. Ada jeda sebentar.
“Kenapa, Lur?” Bapak A mencium sesuatu yang tidak beres.
“Begini, Pak,” ucap si Dulur setelah menelan ludah. “Sebenarnya, Agus sudah meninggal 3 minggu yang lalu. Memang banyak orang yang ndak tahu karena keluarganya juga lupa mengabari teman-temannya. Jadi, yang ketemu Bapak tadi kemungkinan bukan Agus.”
“Yang bener kamu, Lur!” Bapak A tampak tak percaya. “Jangan bercanda, ah. Ndak lucu!”
“Kalau nggak percaya, tanya aja pacarku,” ujar si Dulur sembari menunjukkan layar hapenya.